My Music Corner

Senin, 27 Januari 2014

Siap!

Apakah kau siap untuk ujian?
                                       Aku siap!
                                               Apakah kau siap untuk mati?
                                                                                     Aku belum belajar

Sabtu, 18 Januari 2014

Perempuan Yang Perempuan

Ronggeng Dukuh Paruk - Tarian Bumi

Oleh : Sesar Wisnu Pratama


Novel ini mengisahkan seorang ronggeng muda bernama Srintil yang tinggal disuatu dukuh dengan moralitas rendah, kebodohan meraja-lela, sumpah serapah dan kalimat cabul yang terdengar tiap menit disetiap sudut Dukuh Paruk dengan mengambil setting tahun 1950 -1960an. Kehidupan berahi seorang ronggeng akan selalu yang menjadi sorotan utama masyarakat di Dukuh Paruk dan sekitarnya.
Srintil di angkat menjadi ronggeng setelah kakeknya, Sakarya, mengintip diam-diam Srintil sangat gemulai melenggak-lenggokkan bahu dan pinggulnya seperti seorang ronggeng diiringi oleh suara mulut teman-temannya yaitu Rasus, Warta, dan Darsun. Sakarya menganggap bahwa Roh Indang telah merasuk didalam tubuh Srintil. Setelah melihat kelihaian Srintil tersebut, Sakarya meminta Kartareja, seorang dukun ronggeng tua agar menjadikan Srintil sebagai Ronggeng Dukuh Paruk, mengingat Dukuh Paruk telah kehilangan nama setelah 11 tahun yang lalu seorang ronggengnya mati.

Jumat, 10 Januari 2014

Analisis Puisi 'Tanah Air Mata' - Sutardji Calzoum Bachri

TANAH AIRMATA
 
Soetardji Calzoum Bachri
Tanah airmata tanah tumpah dukaku
mata air airmata kami
airmata tanah air kami

di sinilah kami berdiri
menyanyikan airmata kami

di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase megah gedung-gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami

kami coba simpan nestapa
kami coba kuburkan duka lara
tapi perih tak bisa sembunyi 
ia merebak kemana-mana

bumi memang tak sebatas pandang
dan udara luas menunggu
namun kalian takkan bisa menyingkir
ke manapun melangkah
kalian pijak airmata kami
ke manapun terbang
kalian kan hinggap di air mata kami
ke manapun berlayar
kalian arungi airmata kami
kalian sudah terkepung
takkan bisa mengelak
takkan bisa ke mana pergi
menyerahlah pada kedalaman air mata

(1991)

Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

Analisis 

Puisi ini dituliskan Sutardji Calzoum Bachri menggambarkan

Minggu, 24 November 2013

Surat Ini Milik Kita

Buatmu yang menghela nafas diruang lain

Kenyalnya pipimu sentuh hangat tanganku
Kuingat merah jambu, terbias saat engkau tersenyum

Disudut ruang, kita berpadu cerita
dan tahu saling jatuh cinta
Kusengaja simpan lagu lama cerita cinta
Seolah kenangan milik berdua

Kau bimbing tanganku, sentuh pipimu
Sengaja kubiarkan,
Ku nikmati coklat bola matamu
yang memancarkan lugunya dirimu

Hening,
Tak tahu apa kan diucap
Burung-burung lapar menjerit sinis
Meluruhkan setiap keheningan yang bising

Senyummu,
Sekali lagi teramat manis
Berdua, kita terperanjak dan tertawa

Surat ini, memang hanya biasa
Tak cukup bila kutuliskan semua
Biarlah saja, semua cerita kita

Surat ini, biarlah kusimpan
didalam peti suatu saat nanti
Sampai bunga kamboja bertaburan
diatas tanah, ruang kita kembali

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sample text

"Sebenarnya Kita Bukan Seorang Yang Baik Untuk Mengomentari Diri Kita Sendiri, tetapi Orang Lain yang Melihat Kita yang Bisa Menilai Diri Kita"